Jumat, 02 November 2012

Cara Budidaya Ikan Bandeng

Ikan bandeng memiliki bentuk tubuh luar yang memanjang dan agak pipih seperti torpedo dan dilengkapi sirip-sirip untuk berenang. Sirip ekor relatif besar dan berbentuk cagak. Sisik-sisik kecil dan berwarna putih keperakan. Bagian punggung berwarna hijau keperakan, sedangkan bagian perutnya putih keperakan. Termasuk ikan bertulang keras, dagingnya berwarna putih susu dan strukturnya padat dengan duri halus yang banyak terdapat diantara dagingnya.

Ikan bandeng memiliki bentuk tubuh luar yang memanjang dan agak pipih seperti torpedo dan dilengkapi sirip-sirip untuk berenang. Sirip ekor relatif besar dan berbentuk cagak. Sisik-sisik kecil dan berwarna putih keperakan. Bagian punggung berwarna hijau keperakan, sedangkan bagian perutnya putih keperakan. Termasuk ikan bertulang keras, dagingnya berwarna putih susu dan strukturnya padat dengan duri halus yang banyak terdapat diantara dagingnya.
 
Komposisi daging ikan bandeng segar mengandung protein sebesar 19,73%, lemak 4,05%, air 77,76% dan abu 1,23%. Selain itu bandeng segar mengandung kalsium 20,0 mg, fosfor 150,0 mg, ferum 2,0 mg, vitamin A 150,0 SI dan vitamin B-1 0,05 mg.
Tipe ikan berdasarkan kandungan protein dan lemaknya
Tipe
Ciri-ciri
Protein (%)
Lemak (%)
A
B
C
D
E
Protein tinggi, lemak rendah
Protein tinggi, lemak sedang
Protein rendah, lemak tinggi
Protein sangat tinggi, lemak rendah
Protein rendah, lemak rendah
15-20
15-20
< 15
> 20
     < 15
< 5
5-15
>15
< 5
< 5
Berdasarkan penggolongan tersebut maka ikan bandeng termasuk ke dalam tipe A, mengandung kadar protein tinggi dan kadar lemak rendah.
Ikan Bandeng termasuk termasuk ikan yang menghuni dan mencari makan di bagian permukaan perairan (pelagic), karena itu benih ikan bandeng (nener) banyak terdapat di perairan pantai yang juga merupakan tempet perkembangbiakannya. Telur ikan yang matang gonad bergaris tengah rata-rata sekitar 1,2-1,3 mm, menetas dalam 25 sampai 35 jam setelah dibuahi, kemudian menjadi larva berukuran 5 mm yang akan terbawa arus ke perairan pantai atau muara-muara sungai yang salinitasnya lebih rendah dan berkembang sampai dewasa di lingkungan air payau.

Benih ikan bandeng umumnya disebut nener dan dibeberapa tempat ada yang menyebutnya sebagai anakan bandeng. Nener sebenarnya adalah larva dari ikan bandeng yang diperkirakan berumur sekitar 10-15 hari setelah penetasan. Nener ditangkap untuk dibudidayakan di tambak. Ukuran nener yang sering ditangkap di pantai pada umumnya antara 12-15 mm, hanya sebagian kecil saja yang berukuran 10 mm.


Toleransi nener terhadap perbedaan salinitas cukup besar yaitu dari 0 0/00 sampai dengan 40 0/00. Pada perubahan salinitas yang mendadak melebihi 40 0/00 sebagian nener mati. Sedangkan toleransi terhadap suhu dari 12 0C sampai 35 0C.


Dewasa ini perkembangan tehnologi pembenihan ikan mengalami kemajuan pesat, sehingga untuk keperluan budidaya nener tidak lagi hanya mengandalkan dari usaha penagkapan ikan.

Ikan bandeng termasuk jenis ikan herbivora dengan makanan utama berupa plankton dan lumut-lumutan. Pada waktu larva sampai dengan ukuran benih (nener) ikan ini akan bergantung pada fitoplankton dan zooplankton berukuran renik yang terdapat di permukaan laut, sedangkan di tambak nener dan glondongan bandeng memakan klekap (lab-lab), yaitu suatu kumpulan jasad renik nabati dan hewani yang tumbuh pada permukaan dasar tambak dan merupakan makanan alami.

Tersedianya makanan alami tergantung pada pemupukan tambak sebelum penebaran benih, selanjutnya pertumbuhan klekap dipengaruhi secara langsung oleh banyaknya kadar bahan organik dalam tanah.

Pola usaha Ikan Bandeng : Pembesaran.Sebagian besar usaha udang bandeng dilakukan di t.ambak. Dewasa ini tingkat pengelolaan pembesaran ikan bandeng beragam. Di wilayah pesisir yang banyak terdapat nener, masyarakat dapat membudidayakan bandeng dengan cara yang sederhana, yakni pada saat terjadi pasang, air laut dimasukkan ke dalam petakan tambak. Bersama dengan aliran air masuk pula benih ikan-ikan liar, termasuk diantaranya bandeng. Setelah masa pemeliharaan 6 bulan ikan dipanen. Pertumbuhan dan produksi ikan bandeng tidak dapat diperkirakan dengan baik, mengingat selama masa pemeliharaan tumbuh pula ikan lain yang bersifat penyaing maupun pemangsa.
 
Produktivitas yang lebih tinggi dicapai dengan pengelolaan benih, lingkungan dan pakan yang lebih baik. Dewasa ini petani umumnya sudah tidak lagi mengandalkan benih yang masuk bersama aliran air, tetapi sengaja menebar benih. Lingkungan perairan dipersiapkan melalui pemberantasan kompetitor dan predator dan penumbuhan pakan alami yang dirangsang dengan pemupukan. Dengan cara ini petani dapat menebar ikan sebanyak 3000 ekor per hektar dan setelah melewati masa pemeliharaan 5 bulan diperoleh hasil panen sebanyak 400-500 kg/ha per musim.



Penggunaan pakan untuk mengatasi kekurangan pakan alami dapat meningkatkan kepadatan ikan yang dapat dipelihara yang selanjutnya diikuti dengan peningkatan hasil panen. Pada pemeliharaan tanpa menggunakan kincir air petani dapat memungut hasil panen 2-3 ton/ha/musim, sedangkan dengan penambahan kincir bisa mencapai 5-7 ton/ha/musim. Kendatipun demikian penggunaan kincir tidak berkembang karena pengadaan kincir memerlukan tambahan investasi serta biaya operasional yang cukup besar, padahal tidak sejalan dengan hasil yang dicapai.

Kepadatan paling tinggi didapatkan pada budidaya bandeng di jaring apung, yakni mencapai 300-500 ekor per m² dengan hasil panen 79-125 kg per m² per musim.
 
Pada uraian selanjutnya dibahas usaha pembesaran ikan bandeng di tambak dan jaring apung di perairan tawar yang menggunakan pakan buatan. Pengembangan tehnik budidaya ini dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang tidak terlampau jauh dari kemampuan mereka selama ini baik ditinjau dari segi teknis, sosial maupun ekonomis.

Usaha pembesaran terkait erat dengan usaha lainnya, yaitu pembenihan dan pendederan. Usaha pembenihan saat ini baru ditangani oleh lembaga pemerintah yang menghasilkan telur atau larva. Masyarakat membeli telur atau larva ini untuk didederkan hingga menghasilkan nener. Hubungan antara pembenihan, pendederan dan pembesaran ini digambarkan dalam Gambar. Sedangkan penjelasan usaha pembenihan dan pendederan dijelaskan pada tulisan di bawah ini.

peluang-usaha-bandeng-dua.gifpeluang-usaha-bandeng-dua.gif
Usaha Pembenihan. Usaha pembenihan ikan bandeng diarahkan untuk menghasilkan benih ukuran 1,5 cm, yang dikenal sebagai nener. Selama ini pembenihan umumnya dilakukan atas kerjasama antara Lembaga Pemerintah, seperti Balai Penelitian Budidaya Pantai dan Balai Budidaya Air Payau, dengan masyarakat. mengingat kegiatan ini membutuhkan investasi dan biaya operasional yang besar dan tenaga trampil, terutama pada kegitan pemeliharaan induk hingga menghasilkan terlur/larva. Lembaga pemerintah menghasilkan telur atau larva, kemudian masyarakat menetaskan dan memeliharanya hingga menjadi nener.

 

Pemeliharaan induk. Pembenihan diawali dengan penyediaan induk yang biasanya didapat dengan menangkapnya dari laut. Ikan bandeng termasuk jenis ikan yang heteroseksual. Namun demikian masih sulit untuk membedakan antara bandeng jantan dan betina. Ikan bandeng betina matang kelamin terlihat adanya tiga buah lubang pada daerah dubur, yaitu berturut-turut dari bagian depan adalah lubang pembuangan kotoran (dubur), lubang pengeluaran telur (genital pore) dan lubang pembuangan air seni (urinary pore). Sedangkan pada ikan bandeng jantan matang kelamin terlihat dua buah lubang saja yaitu yang depan lubang pembuangan kotoran dan yang belakang lubang pengeluaran air seni dan sperma (urogenital pore).



Di hatchery induk – induk dipelihara di dalam bak khusus dengan ketinggian air 1,5 m dan volume mencapai 20-30m3. Kepadatan mencapai 1 induk (ukuran 4-5 kg) untuk setiap 2m3.



Selama pemeliharaan dilakukan pengelolaan rutin yang mencakup :
- Pemberian pakan yang berupa pelet berkadar proten 25%, sebanyak 2-3 % dari bobot ikan per hari dan diberikan 3 kali.
- Untuk menjaga kualitas air, air laut dialirkan terus menerus menggunakan pompa dengan pergantian 100-150% per hari. Disamping itu secara rutin kotoran yang berkumpul di dasar disiphon.

Setelah induk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan budidaya, ikan dirangsang untuk mencapai kematangan gonad melalui implantasi pelet hormon yang mengandung hormon LHRH dan 17 alpha methyltestosteron (masing-masing 250 dan 200 mg).
Selama masa pemeliharaan secara teratur dilakukan pemeriksaan terhadap kematangan kelamin induk. Implantasi diulang setiap satu bulan sekali hingga ikan ikan mencapai kematangan kelamin. Kematangan kelamin tercapai setelah diameter telur mencapai lebih dari 750 mm.

Pemijahan. Untuk merangsang pemijahan dilakukan penyuntikkan hormon LHRH cair ke dalam tubuh ikan dengan dosis 30-50mg per kg ikan. Segera setelah disuntik, induk dipindahkan ke bak pemijahan.
 
Bak pemijahan berupa bak beton bulat dengan ukuran diameter 8m dan tinggi 2m. Pada salah satu sisi bak ini terdapat pipa pelimpas air yang menghubungkan bak ikan dengan bak kolektor telur, yakni bak berukuran 60cm x60 cm yang dilengkapi dengan kotak kasa. Bak kolektor berfungsi menampung telur ikan bandeng yang hanyut bersama aliran air setelah terjadi pemijahan.

Pada malam hari induk ikan memijah. Dengan memanfaatkan arus air dalam tangki pemijahan, telur yang telah dibuahi dapat dikumpulkan dalam bak kolektor telur.

Pemanenan telur dari bak penampungan dapat dilakukan dengan menggunakan alat serok yang ukuran lubang kasanya 300 mikron . Telur yang terambil dipindahkan ke dalam akuarium volume 30-100liter, diareasi selama 15-30 menit dan didesinfeksi dengan formalin 40 % pada dosis 10 ppm selama 10-15 menit sebelum diseleksi. Sortasi telur dilakukan dengan cara meningkatkan salinitas air sampai 40 ppt dan menghentikan aerasi. Telur yang baik terapung atau melayang dan yang tidak baik mengendap. Persentasi telur yang baik untuk pemeliharaan selanjutnya harus lebih dari 50 %. Kalau persentasi yang baik kurang dari 50%, biasanya telur dibuang.

Telur yang baik hasil sortasi dipindahkan ke dalam bak penetasan dan pemeliharaan larva atau dipersiapkan untuk didistribusikan ke konsumen yang memerlukan yang masih berada pada jarak yang dapat dijangkau sebelum telur menetas ( ± 12 jam). 

Penetasan dan pemeliharaan larva
Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran, suhu 27-310 C salinitas 30 ppt, pH 8 dan oksigen 5-7 ppm diisikan kedalam bak tidak kurang dari 100 cm yang sudah dipersiapkan dan dilengkapi sistem aerasi dan batu aerasi dipasang dengan jarak antara 100 cm batu aerasi.

Pergantian air.Pada hari ke nol telur-telur yang tidak menetes, cangkang telur larva yang baru menetas perlu disiphon sampai hari ke 8-10 larva dipelihara pada kondisi air stagnan dan setelah hari ke 10 dilakukan pergantian air 10% meningkat secara bertahap sampai 100% menjelang panen.

Masa kritis dalam pemeliharaan larva biasanya terjadi mulai hari ke 3-4 sampai ke 7-8. Untuk mengurangi jumlah kematian larva, jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air pemeluharan perlu terus dipertahankan pada kisaran optimal.
Nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12-16 mm dan berat 0,006-0,012 gram dapat dipelihara sampai umur 25 hari saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa.

Pemberian Makanan Alami. Larva umur 0-2 hari kebutuhan makananya masih dipenuhi oleh kuning telur sebagai cadangan makanannya. Hari kedua setelah ditetaskan diberi pakan alami yaitu chlorella dan rotifera.

Menjelang umur 2-3 hari atau 60-72 jam setelah menetas, larva sudah harus diberi rotifera (Brachionus plicatilis) sebagai makanan sedang air media diperkaya chlorella sp sebagai makanan rotifera dan pengurai metabolit.

Kepadatan rotifera pada awal pemberian 5-10 ind/ml dan meningkat jumlahnya sampai 15-20 ind/ml mulai umur larva mencapai 10 hari. Berdasarkan kepadatan larva 40 ekor/liter, jumlah chlorella : rotifer : larva = 2.500.000: 250 : 1 pada awal pemeliharaan atau sebelum 10 hari setelah menetas, atau = 5.000.000 : 500:1 mulai hari ke 10 setelah menetas.

Pakan buatan (artificial feed) diberikan apabila jumlah rotifera tidakmencukupi pada saat larva berumur lebih dari 10 hari .

Sedangkan penambahan Naupli artemia tidak mutlak diberikan tergantung dari kesediaan makanan alami yang ada.

Perbandingan yang baik antara pakan alami dan pakan buatan bagi larvabandeng 1 : 1 dalam satuan jumlah partikel. Pakan buatan yangdiberikan sebaiknya berukuran sesuai dengan bukaan mulut larva padatiap tingkat umur dan mengandung protein sekitar 52%. Berupa. Pakanbuatan komersial yang biasa diberikan untuk larva udang dapatdigunakan sebagai pakan larva bandeng. Masa pemeliharaan berlangsung 21-25 hari saat larva sudah berubah menjadi nener.


============================

Produk CNI yg membantu untuk budidaya ikan bandeng ini adalah :  




============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi Toko Online kami di : 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar